PENDIDIKAN: Budaya Membaca

Saya sempat singgah menjenguk ke perpustakaan mini AEON Mall sebentar tadi. Lain betul suasananya berbanding masa zaman saya sewaktu kecil-kecil dulu. Pengunjungnya jelas tidak seramai dahulu. Sunyi-sepi seakan memahami teori konsep perpustakaan.

Ianya bukanlah sesuatu pemandangan yang indah. Saya berkesempatan menggunakan khidmat carian Google dan mencari sedikit maklumat untuk memahami dengan lebih lanjut senario ini. Saya ingin berkongsi tentang fakta budaya membaca di kalangan kita yang mana:

  • Menurut laporan UNESCO, melalui National, Regional and Global Trends pada 2016, kadar literasi rakyat Malaysia adalah sebanyak 98.4%. Kerajaan meletakkan kadar sebanyak 99% yang hendak dicapai menjelang 2020.
  • Indeks Budaya Dunia 2017 menunjukkan rakyat Malaysia menggunakan masa kurang daripada 5 jam seminggu (sumber:TheStar Online, 9.12.2018) untuk membaca, berbanding India (10.7 jam),Thailand (9.4 jam) dan China (8 jam).
  • Kajian Interim Tabiat Membaca 2014 yang dilaporkan oleh Perpustakaan Negara Malaysia (sumber: Berita Harian, 12.4.2018) mendapati rakyat Malaysia membaca 15 buku setahun. 
  • Kajian yang sama juga menyatakan majalah adalah pilihan rakyat Malaysia iaitu sebanyak 62.8% dan diikuti akhbar (61.2%), buku ilmiah (54.8%), novel dan fiksyen (47%), bacaan dalam talian (46.4%), fiksyen (29.9%), komik (25.3%) dan jurnal (19.9%).

Budaya membaca di kalangan kita masih agak ketinggalan. Tabiat ini makin berkurang bila anak-anak melangkah ke alam universiti. Membaca itu gedung ilmu. Marilah kita berazam untuk belajar menyintai tabiat ini. Antara cara-cara yang boleh dilaksanakan untuk menggalakkan bacaan adalah seperti:

  1. Menganjurkan kelab buku atau santai bersama buku di mana kita memilih satu buku sebagai bacaan dan sediakan waktu tertentu untuk sama-sama membaca dan bersantai serta membincangkan pendapat masing-masing tentang buku yang dibaca.
  2. Menyediakan kawasan dan pustaka buku yang lebih menarik. Tak semestinya perpustakaan itu kena senyap sunyi sepi. Sedikit kecerian dengan berlatarbelakangkan lagu-lagu ilmiah di ruang-ruang tertentu mungkin dapat menarik minat anak-anak membaca.
  3. Pertandingan membaca dan bercerita hendaklah dipergiat dan di tambah dengan elemen menarik dan kreatif untuk menarik minat si cilik.
  4. Sosial media juga boleh membantu menanam minat membaca. Para instafamous, youtubers dan sebagainya sekali-sekala digalakkann mengadakan slot buku menarik dan menyampaikan ulasan secara kreatif dan berinteraksi dengan netizen.
  5. Memperbanyakkan lagi sumber bahan bacaan dalam bentuk e-book dan mengadakan perpustakaan digital bersesuaian dengan trending dan cara hidup zaman serba ‘pintar’ ini.

Arahan dan ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada rasul junjungan kita Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS sendiri jelas menekankan betapa penting aspek membaca dalam kehidupan.

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan
(QS Al-Alaq; 1)

Islam menganjurkan umatnya membaca untuk mendapat ilmu dan sesungguhnya amal tanpa ilmu adalah suatu kegilaan sedangkan amal tanpa ilmu adalah suatu yang sia-sia. Ianya haruslah seiring, dan orang yang berilmu diangkatkan martabatnya di dalam masyarakat. Marilah membaca kerana banyak kepuasan dan kebahagiaan akan ditemui dengan membaca.

Dunia adalah ibarat sebuah buku, dan mereka yang membaca pastinya sudah mampu menawan dunia.

Parenting: Helping Children Deal with Their Feelings

The school’s mother circle had our first meeting for the year last Friday. We talked about children feelings (and mommies’ feeling as well 🙂 ). Our discussion was based on Chapter 1 of How to Talk so Kids Will Listen (by Adele Faber & Elaine Mazlish) and try to apply it based on Khalifah Method Parenting. It was a good sharing that I thought the need of sharing it here as well.

It has been our tendency to immediately react to the children issues or problems by addressing the ‘solution’ first before trying to understand the whole scenario. We don’t usually make any effort to really understand what is actually bugging them, but we offer solutions based on our ‘experience’ and assumptions. We keep forgetting to remind ourselves that our children are also individuals who have their own opinions, feelings and experience things differently as themselves.

In order for us to manage our children correctly, we should learn to manage their feelings accordingly. Being able to manage their feelings, will help us a lot in managing their life. How can we learn to manage them?

Listen to our children, acknowledge our children and their feelings. Do not shut them immediately when they express or wanting to share their opinions with us. Listen to them. Identify what distract us from listening and responding to them the correct manner. What makes us ‘so busy’ and occupied that we couldn’t take time off to listen to our children issues? Yes, sometimes children would just voice out their issues at not an appropriate time, while we were driving, cooking and doing some other chores. But please don’t just shut them immediately. Explain to them ‘I want to hear your problem, but can we talk about it later as I have to finish what I’m currently doing? If I forgot, could you please remind me?’ And, yes, please come back to them. Start treating them as one of an important individual that you have to give your time like other individuals.

Don’t immediately deny our children feeling. Out of habit, we will always deny our children feeling before we really listen to their issues and try to understand the issues. Just as simple as :

“I don’t like my sister.” Our ‘defensive’motherly insticnt would reply “You shouldn’t said that. She is your sister.”

We should learn to únderstand why our children say it in the first place. Would it be just a one-off occasion, or just want to grab our attention or perhaps just in need of a pair of ears to just listen to them? By denying their feelings immediately, we might start an argument with them or they decided not to share their feelings and shut us off immediately.

Being an adult, we should show empathy. Children with empathy will grow up in a very positive and healthy environment and able to understand things and situation better. Children with empathy have higher tolerance with others as compared to those who have none. They would be able to figure out the solutions in most issues as they understand why people react and respond in certain manners.

When listening to children’s problem, give names to their feelings. Just feed them with vocabularies that describe their current emotions so they would understand their own feelings and put the right words in the right context. One can feel so down and stressed out, but one must need to identify was it because of the anger, frustration, upset or just a mellow feeling because of the ‘weather’. Anger might have a lot different level of anger, anger because of betrayals, or feeling upset or many others. Some words might be to ‘bombastic’ and ‘high end for the children, Just feed them when appropriate. Don’t be scared for they would learn better when they understand when to use it at the right time.

Put what has been outlined in Khalifah Method in practice in order to help our children to deal with their feelings:

  1. Incalculate love in parenting
  2. Reinforce the right values, rewards if necessary
  3. Be firm but kind

In helping children to cope with their issues, we can help them understand better by being creative such us describing the whole scenario (visual socialize) and what to expect so they don’t think we are denying them when things happen not as expected, and we should always encourage them to depend on Allah, He gives (or don’t) what’s best for our own benefits.

Mommies, never put our children’s frustration as your frustration. Everything that they are going through is part of their learning in living their life. Love them, truly! Love them much!!! 

PENDIDIKAN UMUM: Adab di dalam Kumpulan WhatsApp Sekolah

Ibubapa tahu tak, yang paling guru-guru ‘geruni’ bila mula tahun baru ialah menjadi pengurus kumpulan Whatsapp kelas? Tujuan asalnya memanglah untuk berkongsi perihal sekolah, aktiviti anak-anak dan perkara berbangkit sahaja. Namun, lazimnya, pasti akan ada penyalah-selenggaraan dari pihak-pihak tertentu.

Kumpulan sosial yang diwujudkan bukanlah untuk kepentingan individu. Saya bukanlah nak mengajar ibubapa, tetapi ikhlas nak beri cadangan berkenaan adab ber-Whatsapp.

Sebenarnya, banyak hal dan panjang-lebar penjelasan dan pengalaman yang hendak dikongsikan perihal kumpulan WhatsApp ini. Tapi, mungkin kita cuba faham antara perkara yang harus kita sama-sama renung, ingat, ambil pengajaran dan amalkan. Antaranya:

  • Jangan sentuh isu sensitive melibatkan agama, bangsa, bahasa dan politik. Kita masing-masing mempunyai pelbagai pendapat dan pandangan berbeza. Hormatilah hak orang lain. Kalau ada pendapat yang pada pandangan kita perlu disanggah ditegur, tegurlah dengan berhemah. Bila sudah ditegur atau sudah kita sampaikan dengan cara paling baik, cubalah untuk menerima pendapat individu lain. Bak kata omputeh ‘agree to disagree’.
  • Bila masuk kandang kambing cubalah mengembek, masuk kandang kerbau menguaklah. Kita semua menjadi contoh tauladan untuk anak-anak kita. Tunjuklah yang baik-baik. Kebolehan untuk mengadaptasi dengan situasi dan sesuatu yang baru adalah satu skil yang mahu kita terapkan pada diri anak-anak kita. Ini salah satu cara yang boleh kita tunjuk untuk menjadi panduan anak-anak.
  • Jangan kritik ibubapa dan pelajar lain. Juga, tolonglah jangan kritik guru-guru di dalam kumpulan yang belum tentu kita kenal semua ahlinya! Ajar anak-anak dan diri kita untuk berhusnuzon, bersangka-baik. Kadangkala, intonasi yang hendak disampaikan oleh seseorang dan kumpulan WhatsApp ini mungkin berbeza. Niat penulis mungkin hanya sekadar memberitahu, tetapi dibacanya kita dalam nada marah. Perkara ini pasti tak membawa apa-apa kebaikan jika dipanjangkan berlebih-lebihan. Yang lebih memburukkan keadaan jika ada antara ibubapa yang hanya mendengar kisah dari satu pihak dan terus membuat kesimpulan sendiri. Kadang-kadang, kita kena saling ingat-mengingati supaya tak salah membuat tafsiran sendiri. Jika ada konflik dan sebagainya, dengarlah kisah dari semua pihak, bukan hanya daripada anak-anak atau satu pihak sahaja.
  • Kumpulan Whatsapp itu bukan tempat luahan rasa kita, bukan untuk membawang. Itu bukan caranya. Kumpulan WhatsApp bukan tempatnya. Jangan sampai nanti kita sendiri yang membuka pekung di dada kita, kita sendiri yang mendedahkan aib dan kejahilan diri sendiri. Kalau ingin berkongsi perkara-perkara tertentu, nilaikanlah terlebih dahulu. Perlukah? Betul dan sahihkah? Benar dan boleh dipercayaikah sumbernya? Bermanfaatkah untuk perkongsian ramai? Fikir sebelum berkongsi, supaya tak menyesal di kemudian hari.
  • Rumpun kita rumpun beradab. Banggalah dengan budaya turun-temurun itu. Jagalah adab. Ingin sekali lagi saya tekankan. Kita cermin tauladan untuk anak-anak. Cantik adab kit, indahlah adab anak-anak.

Hadis Nabi Muhammad SAW, Baginda bersabda, yang bermaksud : “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (Sahih Muslim)

Juga,untuk renungan bersama : Hadis Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka janganlah ia mengganggu tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam saja.” ( Sahih Bukhari)

Perbetulkan niat kita, untuk kebaikan anak-anak. Jangan pentingkan diri sendiri. Jangan sampai teknologi yang sepatutnya digunakan sebaik mungkin menjadi lubuk dosa tanpa kita sedari.

Pendidikan: Drama ke Asrama

Saya rasa perlu untuk menitipkan sedikit nota berkenaan pengumuman Menteri Pendidikan berkenaan anak-anak B40 akan diberi keutamaan dalam kemasukan ke sekolah berasrama penuh, SBP.

Sebagai seorang ibu yang kiasu dan mementingkan diri demi untuk memberi pendidikan terbaik buat anak-anak, saya agak ‘gusar’ dengan pengumuman itu. Ramai ibubapa yang ‘merintih’ berkeluh kesah apabila anak-anak mereka yang telah berhempas-pulas menduduki UPSR tahun ini, mendapat keputusan cemerlang 6A atau 5A tetapi tidak terpilih untuk mendapat tempat di SBP. Sebaliknya, kawan-kawan mereka yang hanya mendapat 2A atau 3A yang berjaya menjejaki kaki ke asrama. Adilkah itu? Salahkah anak-anak golongan M40 dan T20 (atau untuk memudahkan bicara, kita gelarkan mereka ‘golongan bangsawan’) dilahirkan di dalam keluarga yang diberi sedikit rezeki dari Ar-Razak? Patutkah ‘dianiaya’ anak-anak yang sudah berusaha sedaya boleh untuk mendapat keputusan cemerlang tetapi tak layak ke SBP kerana latar belakang keluarga mereka?

Saya mula membaca piagam pendidikan negara, falsafah dan objektif SBP.  


Ternyata, tujuan utama SBP ditubuhkan adalah untuk kemudahan yang teratur dan sempurna. Ya, saya sangat bersetuju dengan KPM. Seharusnya, asrama adalah untuk mereka yang layak dan tidak berkemampuan untuk menyediakan pendidikan yang kondusif bagi anak-anak. Persoalannya, adakah anak-anak yang terpilih itu LAYAK? Jika benar, apakah sebenarnya KELAYAKAN yang diletakkan sebagai batu pengukur? Saya akui, anak-anak di bawah B40 seharusnya diberikan keutamaan untuk terpilih ke SBP jika keputusan mereka secemerlang kawan-kawan mereka yang datang dari golongan bangsawan. Saya juga setuju yang kelonggaran dari segi keputusan akademi harus diberi pertimbangan dimana pencapaian anak-anak B40 yang mendapat 4A mungkin sama taraf dengan dengan anak-anak golongan bangsawan yang mendapat 6A. Ini kerana, mungkin anak-anak B40 tidak mampu mendapat pendidikan tambahan dan keputusan yang mereka capai semata-mata datang dari hasil usaha mereka tanpa kelas tambahan atau sebagainya. Namun, wajarkah mereka yang mendapat 2A atau 3A diberi tempat ke SBP berbanding kawan-kawan mereka yang mendapat 5A atau 6A? Maaf, saya mungkin tidak sensitif dalam membicarakan perihal ini, tetapi saya masih belum jelas dengan objektif keseluruhan yang hendak KPM capai.

Jika anak-anak B40 yang mendapat 2A atau 3A ini terpilih, mampukah mereka mengadaptasi sebaik mungkin cara pembelajaran di asrama? Atau akan merundumkan keputusan pelajar-pelajar SBP disebabkan kemampuan mereka yang ada batasnya? Saya bukan hendak mencabar atau memandang rendah anak-anak ini. Saya percaya pendidikan adalah untuk semua, terutama sekali pendidikan yang lengkap dan terbaik, wajib menjadi hak buat semua anak-anak tak kira bangsa, agama dan kedudukan sosio-ekonomi keluarga. Itulah yang sepatutnya KPM titik-beratkan buat masa ini. Sekolah kluster, sekolah integrasi dan sebagainya tidak sepatutnya diwujudkan. Semua sekolah sepatutnya mendapat kemudahan dan sokongan yang sama. Semua sekolah patut menjadi sekolah kluster, sekolah intergrasi dan sebagainya. Mungkin dengan itu, tidak ralat untuk ibu bapa mendaftarkan anak-anak ke sekolah harian.

Bukan salah anak-anak dilahirkan dalam golongan bangsawan. Bukan salah anak-anak terpilih ke asrama kerana kedudukan sosio-ekonomi keluarga. Semuanya ada peranan masing-masing. Sekolah adalah tempat menimba ilmu. Sekolah yang lengkap kemudahannya dan yang bagus tenaga pengajarnya pastinya akan melahirkan pelajar-pelajar hebat. Cuma mungkin KPM ingin menilai semula objektif SBP. Mengapa hanya sekolah berasrama penuh sahaja yang mendapat fokus kemudahan teratur dan sempurna? Mengapa tidak sekolah harian juga? Dan mungkin KPM juga ingin mengkaji semula kelayakan anak-anak yang terpilih yang seharusnya fokus bukan sahaja pada pendapatan keluarga, juga keputusan yang kalau tak cemerlang pun, sekurang-kurangnya setara dengan keputusan yang cemerlang. Kalau mendapat 2A untuk pemahaman dan penulisan sedangkan matapelajaran sains dan matematik tidak cemerlang, tetapi terpilih untuk ke sekolah sains, mampukah anak-anak itu?

Panjang lebar berceloteh. Ada juga terfikir, patutkah saya mengisytiharkan kami sebagai tiada pendapatan supaya kami tergolong dalam golongan B40.

Wallahualam