SEKADAR MENULIS: Mimpi

Terlena sebentar di atas sofa usang ruang tamu itu. Dek sejuk hawa dingin, terus lena dibuai mimpi.

Hebat gaya profesional mengejar bola kecil itu dengan kayu hoki Grays kesayangan. Dia bukannya pemain hebat, Cukup sekadar mempertahan benteng dari ditelusuri lawan.Kali ini, peluang di depan mata. Entah bagaimana termampu dibawanya bola hingga ke gawang lawan. Dihayun kuat menghentam bola, terus menembusi pintu gol yang tersedia. Kehebatannya mengejutkan dia sehingga berdebar-debar denyutan dada.

Indah mimpi itu hingga terus dia berinspirasi. Mimpi yang pasti tak menjadi kenyataan sebab dia tahu lemah dah mampunya. Cukup sekadar mimpi di siang hari, ianya tetap indah.

Hari ini, dia terlalu letih. Terlalu jauh digagahi cita-citanya. Dia mencuba. Berputus harap, mungkin tidak. Cuma dia mahu berehat sebentar. Lama mana sebentarnya, dia sendiri masih mencari. Dia ingin berada di dalam mimpinya. Lari dari keselesaan yang dilakukan seharian, gigih tak hiraukan segala yang mendatang, terus skor ke jaringan kejayaan. Kalaulah hidup seindah mimpi.

Agama melarang memanjangkan angan, agama juga menyuruh bersangka baik. Melayu mencabar kalau kail sejengkal jangan di duga, melayu juga mengajar kalau tak pecahkan rebung manakan dapat sagunya.

Berehatlah.

Setelah lelah mencuba.

Tapi jangan berputus harap.

Yang baik itu ada menunggu.

Yang buta itu diri sendiri.

Janji Tuhan tak pernah buruk.

Dia lebih tahu mana baik untuk hambaNya.

Cukup sekadar sabar, syukur dan tingkatkan usaha dengan iman.

Insyaallah, sampai nanti di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s